Perisai segala keberuntungan


mjulkifli – Tahukah  apa yang menjadi hidup kita menjadi beruntung? Bukankah beruntung itu..harta banyak..istri cantik..suami kaya..ganteng..trilyun uang dan aset kita miliki.  Rumah mentereng  segala fasilitas bernilai ratusan milyar. Ada sauna kebun rindang beraneka tanaman buah-buahan, pelepah pohon rindang menyejukkan mata memandang. Ya..aset  trilyunan rupiah. Itukah keberuntungan?..Barangkali tunggangan mewah beserta pernak pernik senilai minimal 5 milliyar. Bukankah itu suatu keberuntungan?..Hemm barangkali ya menurutku. Tapi akankah segala keberuntungan itu ada masanya? Misal diri ini telah menikmati keberuntungan, namun tergeletak dalam pembaringan rumah sakit mewah. Atau itu kita miliki sementara lidah sang pengecap tidak bisa merasakan nikmatnya makan. Bahkan kelu tiada bisa berkata alias bisu?..Ok..ok..jangan dibaringkan..jangan dikelukan..jangan hambarkan..jangan bermasa..jangan..dan jangan..Jadi?..Pokoknya tiada batas..unlimited (hehe..kayak connection internet)..he he he..emang sekarang umur manusia sampai 1000 tahun apa?..Sukur-sukur  kita nyampek 70 tahun..itu sudah bonus 6 tahun..bru..Mana bisa kita bisa menikmati itu semua sementara diumur 70 an saja sudah pikun..lidah pengecap sudah tiada berasa, mata mulai kabur, bahkan ama cucunya saja lupa..Anak siapa ini?Harta siapa ini?Eh..istri siapa ini kok cantik?padahal istrinya diri..he he he..(tidak beruntung lagi…)

Dasar manusia, pinginnya beruntung terus..bahkan unlimited..

Tidak, keberuntungan bukan  unlimited. Bayangkan ketika lahir  bayi dari  wanita mulia. Adakah disana sang bayi  merasa ingin mobil mewah?Atau ingin mengenakan emas berlian 10 kilogram?..Atau bayi tersebut hanya butuh kehangatan sapaan sang ibu dengan satu dua bahkan sepuluh hisap susu ibu. Barangkali ini suatu keberuntungan bagi sang bayi. Bukan mobil mewah, rumah bertingkat berhias emas perak berlian, bukan kekuasan  pengaruh luar biasa. Jadi?..Keberuntungan tergantung situasi dan kondisi bukan unlimited..

Dasar manusia, pingin beruntung terus..bahkan situasi dan kondisi segala..

Bagaimana kalau keberuntungan kita definisikan menjadi bahagia walau bersahaja tapi jiwa raga tetap sehat terstruktur hidupnya, dibawah kendali sang Maha Pemberi hidup dengan tatapan kasih sayangnya. Hidupnya tenang setenang belaian semilir angin, setenang ombak dilautan bagai rumah kaca walaupun dalam benak dan sekitarnya tanpa hiasan emas, perak  berlian, bahkan semua makhluk sangat mencintainya karena pemilik makhluk adalah milikNYA bahkan diri menjadi milikNYA. Jadi?

Perisai segala keberuntungan adalah berkebaikan, kepatuhan, ketundukan,  dan taqwa pada sang Pemberi hidup yaitu Allah SWT . ” Sesungguhnya Allah SWT beserta  orang-orang bertaqwa dan  orang-orang yang berbuat kebaikan”  (QS  16 : 128).  ” Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal-amal sholeh bagi mereka surga yang mengalir dibawahnya sungai-sungai, itulah keberuntungan yang besar ” (QS 85 : 11)

//mjk

Sumber : Segala sumber

Advertisements
This entry was posted in Al Islam. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s