DI PERSIMPANGAN JALAN


mjulkifli – Kisah seorang anak muda dalam perantauan diujung barat Pulau Jawa, tepatnya kota Bandung, ia mendapat tempat untuk mengais banyak pengalaman. Sehari-hari hidupnya diliputi rasa sedih gelisah. Dengan menatap hilir mudik kendaraan didekat plaza Bandung sekaligus orang-orang tiada lelahnya berlalulalang tidak henti. Ia bergumam sendiri barangkali hari ini hari minggu, seperti biasalah dihari minggu setiap orang membangun diri untuk menghilangkan segala kepenatan yang ada. Tiap hari bergelut dengan kerja dan segala tetek bengek rutinitis keseharian. Peduli amat pada semua ini, aku saja sendiri seperti ini lelah.. gumamnya dalam kesendirian.

Baiknya apa ya em..sambil melihat segerombolan gadis mojang pariangan cantik melintas didepan pelupuk matanya. Dengan hati dan pandangan kosong anak muda tersebut mengernyitkan dahi. Itu wanita apa setan kok cantik. Kalau setan cantik banget tapi mana mungkin setan ah bodoh aku mikirin ini semua.

Laki-laki itu kemudian beranjak menuju tempat berkumpul orang-orang. Dia berharap akan dapat suasana hati lebih bijak, tidak sedih dan gelisah. Apa itu disana gumamnya dalam hati. Tanpa sadar ia melongok dikerumunan orang ternyata hanya seorang tua menjual obat. Walah kirain apa aku pikir ada sesuatu yang dapat menyenangkan hati dan pikiranku. Tidak taunya hanya sekedar penjual obat. Kenapa ya orang-orang begitu semangat melihat itu orang jual obat, apa sih yang diharapkan dari obat-obat itu, weleh aku semakin pusing mikirin.

Kakinya berjalan sambil menggurutu tanpa sebab musabab menuju tempat yang cukup asing, tempat yang kecil di lantai paling bawah Plaza Bandung. Ia duduk tercenung ditepi ruangan kecil sambil melihat mobil. Mobil-mobil ini cukup mewah gumamnya dan tanpa sadar ia dekejutkan oleh seseorang dengan memegang pundaknya. Ini orang main tepuk aja, lagi menikmati sesuatu.Ah.

“Assalmu’alaikum mas, anak tersebut menoleh dan ia kaget bukan alang kepalang. “Wa’alaikuim salam tergagap. Belum sholat mas , Ya..ya.. pak emangnya ini tempat apa dalam hati. Pak..pak ini tempat apa pak. Orang itu dengan hati tenang dan teduh tidak nampak rasa marah, orang tsb menjawab : ‘Tempat sholat, mas emangnya maaf.. mas ini Islam kan? Ia menggangguk..Mas belum pernah sholat ya?..Jedeer..Bagai disambar petir ia teringat masa kecilnya dulu.

Ketika pamannya selalu mengajak sholat disebarang kali bersama anak-anak sebaya disurau, ia teringat sekali bacaan atau pujian yang dulu sampai saat ini belum tau apa yang dibaca. ‘Melamun mas..ia kaget dan tersadar iya..ya pak. Langsung menghindar dan masuk ketempat kran air sambil tercenung, apa yang harus kuperbuat. Ia melihat bapak tersebut menyapu mukanya dengan air, tangan, sebagian kepala dan kedua kakinya. Oh inikah yang aku lupakan selama ini dan waktu kecilku dulu. Begitu senang dan bahagia. Lalu ia meniru apa yang dilakukan oleh bapak tersebut. Ini yang kucari begitu nyaman dan tenangnya hati. Tapi..tempat begitu kecil dan pengapnya. Mana lalu-lalang orang gumamnya. Diatas sana banyak orang dan mobil-mobil parkir? kenapa berada ditempat dan dekat sholat?. Pusing juga bila aku mikirin tapi tidaklah..

Sepertinya anak muda mulai berpikir dan tidak masa bodoh. Tampaknya ia berada di persimpangan jalan.

/mjk

Advertisements
This entry was posted in Sastra. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s