Tulisan Terakhir Umi Umar Mengurai Misteri Kematian


RMOL. Kematian adalah sebuah misteri. Siapapun manusia di dunia, tidak akan tahu kapan kematian datang menjemput.

Itulah salah satu poin penting dari artikel terakhir yang ditulis oleh Umi Umar. Umi Umar adalah panggilan akrab bagi Yoyoh Yusroh. Anggota Komisi I dari Fraksi Partai Keadilan Sejahtera (PKS) ini meninggal dunia setelah mengalami kecelakaan lalu lintas di Tol Palikanci, Cirebon (Sabtu, 21/5).

Nama Yoyoh Yusroh tidak hanya dikenal di kalangan aktivis muslimah Indonesia. Namanya harum hingga melintasi batas-batas geografis dan peradaban.

Redaksi Rakyat Merdeka Online mengangkat artikel terakhir Umi Umar yang ditulis di Madinah, Arab Saudi, pada tanggal 23 Maret 2011. Inilah artikel yang ditulis sang Mujahidah.

Kematian Sebuah Misteri

Siapapun manusia di dunia ini, baik ulama, cendikiawan, dokter, psikolog, para normal atau apapun statusnya, tidak akan tahu kapan hari, jam,  dan tanggal kematiannya. Karena kematian seseorang merupakan hak prerogatif Allah SWT yang tidak pernah diumumkan kepada manusia.

Untuk para hamba yang memiliki pemahaman seperti ini, ia akan selalu siaga untuk menghadapi hari kematiannya dengan berbagai amal yang diridhoi Allah SWT. Siaga menghadapi kematian melebihi kesiagaan dalam hal lain. Misalnya saat ini banyak orang melakukan siaga bencana, siaga perang, siaga banjir dan siaga-siaga lainya tapi luput programnya dari siaga kematian. Padahal kematian adalah sebuah misteri, ia akan merenggut siapa saja di dunia ini dengan tidak mengenal usia. Bukan hanya orang tua, tetapi anak muda, remaja bahkan bayi sekalipun dapat meninggal tanpa diprediksi.

Kematian juga tidak mengenal apakah orang itu sakit atau sehat, karena terbukti orang yang sehat, segar dan bugar juga bisa mengalami mati mendadak. Kematian juga tidak selalu dialami seseorang secara sendirian. Apabila Allah SWT menghendaki, kematian bisa dialami oleh sebuah komunitas, atau suatu bangsa di suatu daerah, atau suatu wilayah atau suatu negara dalam jumlah yang sangat menakjubkan. Contoh peristiwa gempa bumi di Padang Sumatera Barat  atau Tsunami di Aceh dan yang terakhir di Jepang.

Sebagai seorang muslim, kematian yang didambakan adalah mati syahid dalam membela agama Allah SWT. Sebagaimana mempertahankan hak yang dilakukan oleh saudara kita yang ada di Palestina saat ini dalam melawan Israel yang mengambil tanah mereka, menguasai masjid Al Aqsa dan berbagai hak hidup mereka.

Namun karena kematian sebuah misteri, tidak semua mereka yang berjuang mendapat karunia syahadah seperti yang diharapkan.

Ada juga  yang mengharapkan kematian setelah melakukan ibadah seperti setelah selesai sholat, setelah berbuka puasa atau setelah selesai melaksanakan ibadah  haji, atau ibadah-ibadah lainnya. Banyak harapan mereka yang dikabulkan Allah SWT.

Rita, seorang aktifis dakwah di kota Tangerang, teman saya, menceritakan bahwa pada bulan Ramadhan tahun 2009 seorang bapak bernama Ahmad ikut  shalat tarawih. Setelah selesai shalat dan sedang berdzikir, ia terjatuh dan kemudian  meninggal dunia. Cerita lain tentang seorang ibu yang baru selesai berbuka kemudian terjatuh dan segera dilarikan kerumah sakit. Tak lama kemudian ia meninggal di rumah sakit.

Ada lagi peristiwa  yang  sangat memilukan. Seorang ibu yang baru selesai menunaikan ibadah haji  meninggal di pesawat GA 981. Ketika ia menaiki tangga, pas di anak tangga yang terakhir dekat pintu ia terjatuh dalam posisi duduk. Kebetulan penulis duduk di dekat pintu sehingga terlihat  jelas bagaimana ia terjatuh dan dibantu suaminya untuk duduk. Ia terlihat sangat lemah, sehingga dibaringkan dan digotong oleh teman-temannya sesama jamaah haji dari Solo.

Saat digotong dan lewat di hadapan penulis, penulis berdiri dan sempat memegang kakinya yang  terasa sangat dingin. Kemudian pramugari melalui pengeras suara menanyakan siapa penumpang yang dokter. Ia mohon bantuannya untuk menolong pasien yang sedang sakit. Ternyata ada dua dokter laki laki dan perempuan yang siap menolong, kemudian agak ramai mereka mondar mandir karena posisi duduk Ibu Hartati, nama Ibu itu, di kelas ekonomi agak rumit untuk mendapat bantuan. Akhirnya kebijakan crew pesawat, Ibu Hartati dipindahkan ke kelas bisnis untuk memudahkan pengurusannya.

Setelah pesawat take off beberapa menit dan suasana agak tenang, masing masing petugas duduk kembali ke kursi masing masing. Penulis mencoba melihat Ibu Hartati di tempatnya, ternyata beliau tidur mendengkur di sebelah suaminya. Tidak lama kemudian terlihat suasana yang agak ribut. Ternyata ibu Hartati sudah meninggal. Ia meninggal  dalam posisi duduk.

Terpikir oleh penulis, tidak mungkin selama sembilan jam mayat bisa bertahan duduk di kursi. Akhirnya setelah musyawarah dengan crew pesawat, jenazah Ibu Hartati diletakkan di belakang barisan kursi bisnis terakhir dengan beralaskan plastik.

Hal ini menjadi PR bagi penulis untuk memberi masukan kepada pihak penerbangan.

Ketika rapat kerja bulan Mei 2010 dengan pengelola maskapai Garuda di Komisi VIII yang membincang masalah biaya penerbangan haji, penulis sampaikan kepada Dirut Garuda, Pak Emir Sattar, bahwa penerbangan harus selalu mempersiapkan KIT untuk jenazah berupa kantong mayat, karena sangat mungkin dalam penerbangan jauh atau dekat ada seseorang yang tiba ajalnya. Saat itu beliau mengaminkan, dan mudah-mudahan sekarang sudah direalisasikan.

Itulah kematian yang merupakan hak penuh Allah  SWT, yang tidak bisa di duga oleh siapapun. Kematian laa yaastakhiruna saat wa laa yastaqdimun. Tidak bisa ditunda sedikitpun atau di percepat.

Wallahu  a’lam bis showwab.[yan]

Advertisements
This entry was posted in Kisah Nyata, Nasional. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s